SELAMAT DATANG

Kebaikan itu boleh dilihat oleh yang buta, boleh didengar oleh yang tuli, boleh dirasa oleh Si Kosong.

Sunday, 21 December 2014

Catatan Nasihat #1

Catatan Nasihat (Almarhum) Ustadz Rahmat Abdullah.
"Ghairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah"

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah pangkat dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau pangkat.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan mudah marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi... mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan 'manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang... Dakwah ini berat... karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini... mengarungi jalan perjuangan... kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya... Tetaplah disini... dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh... Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri... karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan...

Jika bersama dakwah saja... kau serapuh itu...Bagaimana mungkin dengan seorang diri? Sekuat apa kau jika seorang diri?

5:39 pm
Lokasi dirahsiakan
Kenapa masih termenung-menung?
Semoga terus................

Yours truly

My dear brother/sister, I really wish, I want to be like you.

Yet, you wish to follow my footsteps.

Dear brother/sister,

If there is such one rules that I could impose on you, it will be: Never follow my footsteps.

Because in future, I don't want  you see the world as I see, know things that I know, and repeat my previous mistakes. The damage was already done, and what you see here is the result that came out of it.

However, you can take example from me. Please, do not repeat the mistakes and become a greater person. It is my utmost wishes that you will have a better future than me.

We may never have met, but I hope you will become the new generation that will change the future, your future. Whoever you are who read this, know that I am writing this because somehow I want you to treasure your life. You lived everyday, not only once. But for once, you will die.

It is my utmost wishes that you will gain happiness everyday throughout your life, whether in joy or sorrow, sick or healthy, even in the hereafter.

Yours truly,

1328 hrs
21/12/2014
(Location cannot be revealed)
For once, I hope everything will worked out.

Sunday, 2 November 2014

Brapa kali sudah?

Mencari jalan selepas tarbiyah.

Dengan satu SMS/PM/mesej kita menjelaskan bahawa kita meninggalkan tarbiyah, atas alasan peribadi, kerana keadaan memaksa, dengan harapan "inilah pilihan terbaik".

Macam senang bukan?

Kondisi sebenarnya, bingung nak menentukan sikap tapi optimis dengan pilihan yang nak diambil. "Ana dah tak tahu nak buat apa lagi" bahkan adalah alasan yang paling kental.

Ikhwahfillah, bagi membuat keputusan kita harus kuat dalam memutuskan dan memilih apa yang sepatutnya dilakukan. Serta, siap untuk menanggung jawab semua kesan yang akan berlaku. Inilah yang kita katakan 'matang'.

Bingung untuk menentukan sikap, ragu-ragu untuk membuat keputusan seperti diatas bukanlah satu kekuatan. Bahkan, inilah kenapa ramai yang telah memilih keluar dari tarbiyah tidak lagi sehebat dulu sewaktu masih terus menerus ditarbiyah dan mentarbiyah diri sendiri: tidak matang dalam membuat keputusan.

Kebiasaannya orang umum, kematangan ini akan terbentuk apabila masuk ke dunia pekerjaan/mahu berumah tangga/menjadi tempat keluarga bergantung etc. di tambah lagi faktor umur yang telah meningkat (23 tahun ke atas). Kenapa? Pada mereka, itu adalah ujian yang berat. Keluarga, kewangan adalah ujian yang berat.

Pada seorang ikhwah, kerja-kerja dakwah itu saja sudah mendatangkan pelbagai ujian dan masalah yang harus diselesaikan. Kepelbagaian masalah dan ujian ini yang membentuk kematangan, bahkan matang lebih awal dari usianya.

Kelemahan sebegini yang sentiasa kita perbaiki dengan terus mentarbiyah diri sendiri. Ujian yang akan mematangkan kita pula, menjadikan kita kreatif dalam ujian-ujian hidup akan datang. Pengalaman ikhwah lain juga boleh kita buat sebagai petunjuk untuk membantu menyelesaikan masalah.

Inilah nikmat bagi yang memilih dakwah dan tarbiyah. Jangan sampai kita terjatuh pada hawa nafsu dunia dan melupakan cita-cita indah dakwah ini.

02/11/2014
3:00 pm
UKM KL
Dah lama dah tulis, akhirnya dilepaskan dari inbox.
Semoga menjawab soalan.

Wednesday, 15 October 2014

#Soalan

"Bila semuanya tak mengikut apa yang kita mahu....."

Perjalanan pulang yang panjang ke Kuala Lumpur hari ini memberi peluang pada aku untuk merenung semula hidup semasa.

"Bila perkara yang paling kita mahukan pada waktu ini masih belum kita dapat.Sampai bila kena tunggu...."

"Perlu ke aku sampai meminta?" Segan.

"Tak beranilah." Nak atau tak?

"Bukan keperluan kot....entahlah" *Fuh....

Letih untuk bercerita. Biarkan dulu soalan itu disini.

1204am
Kuala Lumpur
Baru pulang dari laut.
"Bila semuanya tak mengikut apa yang kita mahu....."
Biarkan dulu soalan itu disini.

Monday, 29 September 2014

Panadol Kejenuhan

Secara psikologinya, lelaki lebih cenderung untuk tak duduk lama dalam satu-satu keadaan.

Kita merasa perlu untuk berhenti sejenak, mengambil masa untuk mengumpul tenaga, motivasi etc dan kemudian kembali dengan semangat, kekuatan yang baru untuk je depan. Macam lastik, tarik ke belakang kemudian menerjang ke depan dengan momentum yang tinggi.

Barangkali, kerana kita yang tidak memanfaatkan masa di luar pekerjaan sebaik-baiknya hingga kita merasa kejenuhan dalam pekerjaan masing-masing setiap hari. Ruang masa selepas pekerjaan dihabiskan dengan rehat dan tidur berbanding aktiviti yang lebih berkualiti.

Pernah, banyak kali kita telah baca tentang cara Rasulullah SAW dan para sahabat mnggunakan waktu-waktu mereka, terutamanya malam. Solat tahajjud yang panjang, bacaan Al-Quran etc. Itulah ruang untuk mereka mengumpul motivasi setelah seharian dengan kerja masing-masing. Peluang untuk mencari momentum sebelum kembali bekerja.

Perlu diperhatikan ibadah masing-masing untuk mereka yang mula dilanda kejenuhan setelah sekian lama bekerja. Bimbang kejenuhan akan berlarutan menjadi penyakit hati yang kemudiaanya melunturkan kualiti.

Semoga bermanfaat.

0131 am
Gombak, Selangor.
Baru pulang dari KLCC.
Supaya tidak jenuh dalam jalan dakwah

Wednesday, 24 September 2014

Momentum ke hadapan

Ikhwahfillah wal akhwafillah,

Perkara yang berlaku memang tidak dijangka. Kita biasa melihat pilihan-pilihan oleh para pendahulu kita untuk meninggalkan tarbiyah, dakwah etc. atas pelbagai sebab.

Tak perlu merasa simpati dengan apa yang telah berlaku. Itu adalah pilihan yang telah dibuat, dan ana yakin dia faham tentang kesan dari pilihannya. Afwan, ana bukannya tk kenal siapa dia dan ana pun tahu apa yang dia hadapi sebelum2 ni. Dia pun faham apa yang dia akan hilang dan akan dia hadapi selepas ini. Tak perlu dibincangkan kenapa, mengapa dia pilihan itu dibuat etc.

Inilah pengalaman mengajarkan pada kita. Berdepan dengan situasi sebenar akan jauh lebih mematangkan hidup dan pemikiran. Insya Allah, ini bukan kehilangan seseorang tapi persiapan untuk yang lebih baik akan datang.

Setiap ujian Allah SWT itu hanya akan datang pada masa dan keadaan tertentu sahaja. Mulai menjaga momentum sedia ada, tingkatkan dan cukuplah merenung nasib diri (masa lalu). Atur dan fikir solusi untuk tugasan-tugasan sedia ada dan kedepan (masa depan).

Banyak lgi perkara (seterusnya). Untuk semua ini; ana, ikhwah2, akhwat2 perlukan antum & antumna.

Ikhwahfillah wal Akhwafillah sekalian,

Semoga Allah SWT memberkahi pengalaman ini dan semoga Allah SWT memberkahi usaha antum & antumna sekalian. Hanya Allah SWT pemberi balas yang terbaik.

Sekian.

Wednesday, 17 September 2014

Perjalanan sabar

.........
"Begitulah ceritanya Akh. Afwanlah, antum pulak yang kena dengar cerita ana."
"Eh, ana biasa dah dengar cerita-cerita ikhwah. Akhi, kita kan nak redha Allah. Kenalah banyakkan bersabar....."

Itulah nasihat yang aku peroleh dari dia dalam perbincangan kami. Entah kenapa, yang paling kerap menerajang pemikiran aku ketika ini adalah hal-hal pernikahan dan berkeluarga. Nyata sekali ujian yang sedang aku hadapi.

"Antara yang paling berat sekali adalah waktu sebelum menikah. Antum kena kuat menjaga hati, niat kenapa nak menikah...."

Sekarang baru jelas situasinya. Kita merasa kan masanya akan tiba tidak lama lagi, dan bimbang apa yang akan berlaku berikutnya (terutamanya: dengan siapa).

Jalan yang perlu ditempuh: sabar. Bukan solusi segera yang diperlukan ketika ini, tapi inilah jalan untuk mencapai solusi. Semoga Allah SWT memberkahi pengalaman ini.

2200
Stesen Putra, Kuala Lumpur.
Baru menghantar ikhwah, sembang-sembang muhasabah.
Semoga Allah SWT memberkahimu akhi.

Tuesday, 19 August 2014

Menerjang badai

Sukar nak membuka diri sendiri supaya bermuhasabah dan bersabar.

Sang fakir miskin hati akan sentiasa menutup mata dan meratap atas nasib yang tak sudah-sudah.

Sang pejuang impian akan mengukuhkan langkah kakinya kedepan, mengayunkan tangan dan jalan.

Nasihat dari seorang ikhwah:
"Akh, kalau antum sedang dilanda badai, ribut taufan sekalipun; apa antum nak buat? Bukan boleh lari pun. Antum cuma kena senyum, pandang depan, kemudian jalan saja berbekalkan sabar dan cinta."

Sunday, 3 August 2014

Berat punggung menanggung beban

"Macam mana sekiranya ujian itu rasanya terlampau berat?"

Allah SWT ada menyampaikan pada kita, dalam Surah Al-Baqarah, ayat 286 (2:286). Nyata maksudnya, tapi perkataan yang berat. Masalah yang menghentam kehidupan kita, pasti cuma kita yang faham kesusahannya. Kalau diceritakan sekalipun, tak boleh nak expect mereka akan faham seperti yang kita rasa. Jadi Allah SWT tak faham kesusahan dan penderitaan pemikiran dan fizikal tu?

Maaf, tapi pada aku sangat kecewa dengan pemikiran sebegitu. Kerana dia yang merasa semuanya, jadi orang lain tak layak untuk mendengar, menasihati, memberi pendapat mahupun membantu. Sukar nak meneka internal change manusia.

Maaf sekali lagi, tapi macam mana kalau itu yang terbaik dari Allah SWT? Barangkali kita expect yang terbaik dari Allah SWT itu sesuatu yang menggembirakan, pasti membahagiakan dan menenangkan jiwa. Sukar untuk belajar dari kepahitan, tapi barangkali itu pelajaran yang terbaik. Bukan pukulan ke 100 yang menjatuhkan, tapi 99 pukulan yang sebelumnya. Sinonim untuk hal ini yang biasa digunakan adalah 'bersangka baik', 'positive thinking', 'energy' etc.

Expect the unexpected. Kecewa mungkin pasti berlaku, cuma jatuh ke lubang yang sama kali kedua? Mudah-mudahan Allah SWT akan terus mengukuhkan langkah, menetapkan hati, dan meluruskan niat di jalanNya.

Sekadar idea dari orang muda yang banyak bercakap, semoga bermanfaat.

#isupportgaza

Antara sifat kemanusiaan dan sifat demokrasi.

"Siapa yang gagal memahami dasar luar Amerika dan Israel serta mengkritik tindakan-tindakan mereka adalah orang-orang yang gagal memahami prinsip demokrasi." - tulisan oleh seorang anon.

Adakah dengan menjadi ahli-ahli demokratik seperti Amerika dan Israel baru sempurna nilai-nilai kemanusiaan seseorang?

Maaf, aku tak faham apa itu sifat-sifat demokrasi. Aku cuma faham sifat-sifat kemanusiaan. Dan amatlah kasihan pula pada mereka yang punya sifat dan kesedaran manusiawi ini; dilabel extremist kerana memboikot produk-produk yang menyumbang kepada Israel, menyokong Palestine dan Palestinian etc.

Bercakap tentang ukhwah Islamiyyah dan manusiawi pula, pendapat aku Europeans lebih manusiawi dan jauh lebih mantap ukhwahnya berbanding sebahagian Muslim di Malaysia. Cukuplah menjadikan kurangnya ukhwah Islamiyyah seaama Muslim sebagai alasan kurangnya kesedaran anda.

Doe
s it requires more than common sense to understand the situation?

Alhamdulillah, buka timeline tengok ramai yang update berkenaan Gaza, Palestinian etc. Rakyat Malaysia memang senang melahirkan simpati dan sokongan pada Palestin dan Palestinian. Cuma ramai yang tak sanggup menzahirkannya simpati dan sokongan tadi dengan perut sendiri.
Kalau perut itu boleh dikawal, beban mereka di Gaza pasti kalau tak banyak, sedikit berkurang oleh usaha kita di Malaysia. 
Don't get mixed up with religion and hatred. Go humanity.

Bukan nota dari hati

Jatuh cinta?

Perasaan selalu dijadikan kayu ukur untuk menilai seseorang. Hal yang fizikal dan bukan fizikal kadangkala dipukul rata pada semua orang. Berapa kali sudah kita tertipu dengan akhlak yang kadang kala indah khabar dari rupa...akibat penilaian yang sama rata pada perkara yang berbeza.

Bukan kerana wajah yang menyebabkan jatuh cinta, tapi perasaan yang hadir seiring dengan wajahnya yang meneduhkan.

Kenapa setiap kali perasaan hadir, yang difikirnya adalah 'terjatuh'? Anda sebagai pemandu, pandu perasaan mengikut jalannya. Kenapa perlu asyik terjatuh?

Bangunlah diri untuk menjadi matang, punya pendirian, mampu berfikir secara menyeluruh. Buang sifat keanak-anakan dalam diri yang sentiasa menunggu untuk dibangunkan.

Bangun, bukan terjatuh lagi.

Saturday, 3 May 2014

Nota hati ikhwah #1

Perasaan itu mendatangkan kesakitan pada aku. Sakit karena perasaan itu wujud sebelum saatnya, bukan pada masanya. Sakit karena tiap hari aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengikis rasa ini. Harus melakukan pelbagai benda, memikirkan kerja-kerja yang harus diselesaikan. Yang penting, kepala harus disibukkan supaya tidak sakit memikirkan dia. Aku lebih rela untuk mendapat pening kepala biarpun sekejap, biar ingatan itu ditoreh keluar dari benak pemikiranku.

Sekiranya kita bertemu di mana-mana, jauh lebih sukar. Menjaga pandangan, hati, fokus. Mengelak daripada memberi atau mengingat sebarang impresi yang boleh menjadi kenangan. Menjaga pemikiran supaya tak berlebih-lebihan hingga menjadi angan.

Dan yang paling sakit, karena aku sudah lupa cinta-Nya, lupa dalam mengingat-Nya, lupa untuk memuji-Nya, dan tidak hadir untuk menjumpai-Nya di sepertiga malam. Baru diberikan rasa itu pada seorang, langsung lupa padaNya. Malu.

Aku rindu dengan indahnya sujud, merasakan kenikmatan menemui-Nya pada malam hari.

Selayaknyalah bagiku sekarang bukanlah mendoakan supaya dia yang menjadi teman hidupku. Apalah yang aku tahu, aku cuma rasa dia yang terbaik untuk aku. Berangan tak sudah.

Apa yang paling disukai Allah SWT ketika ini adalah untuk aku kembali mulai menata hati dan terus memperbaiki diri. Inilah jalanku. Ikhlaslah duhai jiwa. Senyumku tak kan pernah hilang.

Aku yang salah dalam berfikir. Fikir aku, sekiranya menikah dengan dia, wah pasti akan mudah dalam banyak perkara. Mudah menjaga hati dan tubuh badan dari zina, lebih tenang, seimbang rohani, jasmani dan emosi etc. Rupanya yang aku harapkan selama ini adalah kemudahan sebenarnya, sedangkan Allah SWT boleh memberi kemudahan itu, bukan penikahan yang aku bayangkan itu yang akan mudahkan semuanya.

Yang nyata, bila aku jauh di Kuala Lumpur ini lebih Allah SWT mudahkan untuk aku fokus dalam kerja dan melupakan dia. 

Nyata, Allah SWT menguji aku dengan dia. Dalam sudut lain, hati ini lega juga. Jika masih diberikan ujian itu berarti Allah SWT masih menyayangi dan mencintai aku. Allah SWT masih berkehendak untuk aku menjadi manusia yang lebih baik dan naik peringkat dengan ujian yang diberikan-Nya. Dan khawatirlah ketika tidak menjumpai kesulitan dalam gerak langkah aku, boleh jadi Allah SWT tidak lagi mempercayai atau bahkan tidak mencintai aku, naudzubillah min dzalik.

Kalau Allah SWT bekehendak, pasti Dia akan izinkan untuk aku. Mudah-mudahan, Ramadhan nanti aku sudah memulakan langkah (menghantar resume) dan menikah dalam tahun ini juga (lagi awal lagi bagus haha, itupun kalau Allah SWT izinkan. Amin ya Rabb). 

3/5/2014 (edited 19/9/2014)
12:50 am
Bangi, Selangor.
Cetusan muhasabah perjalanan hidup.
Semoga aku tetap tsabat, untuk redhaNya semata-mata.

Thursday, 27 March 2014

"Kenapa kita tak buat event-event macam depa?"

"Akh, kenapa kita ni tak buat je ceramah, event-event macam orang lain? Macam tu kan kita boleh sentuh ramai lagi orang. Boleh kumpul ramai-ramai orang untuk ajak kepada dakwah. Cara kita ni macam lambat sangat."

Kenapa kita buat dakwah dan tarbiyah dengan cara ini? Mari baca nukilan dibawah oleh akh Mujahid Pingu. #truestory. 

NOTA: Ada sedikit pengubahsuaian dari nota asal. Sesetengah ayat aku 'bold'kan kerana itu point penting. Sapa nak jimat masa/malas nak baca, baca yang dah di'bold'kan je.


*******

[DIARI MUJAHID PINGU]

Semalam sewaktu aku sedang menyampaikan bahan mengenai Kondisi Umat Islam Sekarang dalam halaqoh, seorang brother dari Egypt menyapa dan ingin menambah poin mengenai da'wah yang aku bahaskan.

Katanya:

"You are right my brother. Today's da'wah, there's a lot of people doing da'wah amma. Things like talks, conferences, even the jum'ah's khutbah. But the problem is with da'wah amma, it doesn't do much change. The people won't listen and even some of them are sleeping, busy playing with their gadgets. They will only come to enjoy, not to learn something. They may come to learn but not to change themselves, just for the sake of knowledge, not to convert their knowledge into action."

Ketika itu semua mutarabbiku tersentap dan ada juga yang masih cuba menangkap slang English yang brother tu gunakan.

"The only thing that will change this ummah, is da'wah khossoh. Like what our beloved Prophet did back in the early stage of da'wah in Mecca; nadwah, halaqoh, usrah. Back in the house of Al-Arqam ibnu Abi Al-Arqam. This is the most efficient method for da'wah. You approach people, explain to them about Islam and the importance of being a real Muslim. And insyaAllah, this method will revive the iman of the Muslimeen in this world if everyone understand and do this method, together."

Kemudiannya brother tersebut ingin berundur diri asbab ada perbincangan subjek Precalculus. Sebelum dia pergi, dia sempat memberiku satu nasihat..

"But the most important thing in da'wah khossoh, you brother," sambil menuding jari ke arahku, "must maintain your ikhlas. The things I share to you guys just know, if my intention is just to show how good I am, then it'll be no point. There's no ikhlas in it. And you brother, must remember the du'a that our Prophet taught us to secure and maintain our ikhlas."

اللّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

"O Allah! We seek refuge in You from associating anything other with you while we know it, and we seek repentance for associating something other with you while we don't know it."

"That's all. Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam. Syukran jazakallah khair.."

Kemudiannya, dia pergi meninggalkan kami. Walaupun kehadirannya tidak sampai 10 minit, namun apa yang di kongsikan sangat berbekas di hati, terutamanya buat diriku sebagai orang yang selalu menyampaikan..


*******
Maaf, ini bukan untuk menyatakan bahawa cara "aku yang paling betul, korang semua sesat." Bukan, bukan itu benda yang aku nak tekankan disini. Benda yang aku nak tekankan, dan perlu kita semua fahamkan disini adalah:

1. Banyaknya (kerana berbeza-beza) cara yang kita gunakan akan meramaikan lagi orang yang kembali beriman/mahu beriman/ jadi beriman kepada Allah SWT. Kita semua sedang berlumba-lumba untuk buat yang terbaik [2:148] dalam kerja dakwah kita kepada Allah SWT. Insya Allah, dengan cara masing-masing yang kita yakin, kita akan menambahkan lagi bilangan orang-orang yang beriman. Tujuan kita sama, ruh dakwah kita sama. Kita sama-sama berharap supaya Islam yang akan untung, menang. Harap kita boleh melapangkan dada sesama kita dalam kerja dakwah.

2. Kenapa ini cara yang kita pilih? Kerana ini yang paling kita yakini, yang paling efisyen, yang selari dengan apa yang Rasulullah SAW pernah buat. Kita nak membentuk orang-orang yang berkualiti, bukan sekadar kuantiti, dan Rasulullah SAW dengan cara ini telah membentuk generasi yang sangat-sangat berkualiti. Kita perlukan orang-orang yang berbuat dengan kefahaman, dan merasakan kepentingan dakwah ini untuk mengubah dan menyelesaikan masalah/penyakit umat sekarang. Kita kumpulkan mereka yang berkualiti dan fokus untuk bina kefahamannya supaya kita boleh gerakkan secara tersusun.

Dah ramai sangat orang yang tahu, tapi tak ramai orang yang faham dan nak berbuat. Formula untuk kita mengubah keadaan ini adalah : Tahu + Faham = Tindakan (Dakwah). 

Insya Allah, kita akan bukan sekadar memperbaiki diri sendiri dengan tarbiyah, tapi kita juga akan memperbaiki orang lain dengan dakwah. Kita yang paling banyak kekurangan, sebab itu kita mahu berbuat lebih.

24/03/2014 (sepatutnya, dah delay post)
12:39 am
BaTar 4
Kita yang memerlukan Allah SWT, sebab itu kita buat kerja dakwah.
Supaya kita yang lebih dulu mengingat Allah SWT.


Wednesday, 26 March 2014

Lebih kurang 1000 tan (kot).

Sukar untuk menyatakan cinta.
Setiap kata perlu dibuktikan dengan amal,
kerana cinta adalah bukan sekadar emosi dan perasaan.
Luahannya adalah dengan kerja, kerja, kerja.
Bukan lagi cakap-cakap sahaja.
Semua dah muak mendengar kata dan janji.
Sekarang, semuanya adalah kerja, kerja, kerja.

Menyatakan cinta dengan kerja, agak sukar.
Gaya bahasanya tak sama.
Dibalik setiap idea, arahan, ketetapan, ketaatan, komitmen.
Dalam keseriusan kerja, kita menyatakan cinta.

Aku faham kerja itu berat.
Tapi, pandanglah dengan kaca mata tarbiyah.
Pandanglah ke atas, kau punya penolong paling hebat!
Pandanglah ke bawah, kau ini bertuah sebenarnya!
Pandanglah ke kiri dan kanan, siap sedia ikhwah/akhwat di sisimu!
Bukan kau seorang!

Jalan dakwah ini panjang lagi.
Penamatnya entah bila, dimana. Tak tahu.
Dan kita tak terburu-buru mencari penamatnya.
Siapa yang memerlukan dakwah ini?
Kami yang memerlukanmu akhi/ukhti.
Siapa yang boleh menggantikan tempatmu?
Tolonglah dakwah ini!
Tolonglah dakwah ini!
Tolonglah dakwah ini!

Allah SWT yang akan menolongmu.

26/3/2014
BaTar 4
12:37 pm
Ini bukan soal bila, siapa. Ini soal kenapa.


Insya Allah, kerja dakwah kita adalah cintanya kita pada dakwah. Moga Allah SWT redha....







Monday, 24 March 2014

Anugerah 'Pelakon' Terbaik

Bagi mereka, kamu ini berlakon depan orang ramai. 
"Soleh konon."
Mata, hati mereka tak menredhai perkara ini untuk berlaku.

Lakonan ini harus segera ditamatkan.
Kerana itu, mereka akan cuba buktikan kata-kata mereka.
Dengan sungguh-sugguh cuba menjatuhkan kamu, untuk membuktikan mereka paling benar.

Tahajjud vs tidur, bilik vs masjid, prioriti vs prioriti, 
study/game/mamak/bola/girlfriend vs halaqoh/usrah/bulatan gembira/kelas agama/ceramah etc.
Dengan hujah, supaya kamu menyertai mereka.

Siap sedia bagi siapa pun yang mahu beriman, pasti akan diuji oleh mereka.
Mereka tidak akan duduk diam, sampailah kau ikot bontot mereka.
 
Semoga berbuah amal terbaik, tak tunduk pada mereka.
Jika benar ini semua 'lakonan', maka dapatkan Anugerah 'Pelakon' Terbaik!
Sorga itu amat dekat, untuk orang-orang yang mahu beriman.

Mereka berusaha memadam cahaya Allah SWT dengan ucapan mereka.

Tapi, itu mungkin baru yang biasa kita kan hadapai dalam tarbiyah dan dakwah. Cuba baca tulisan di bawah ini oleh Imam Hasan al Banna pula:

”Ketidakfahaman rakyat pada hakikat Islam akan menjadi ujian bagi kalian.

Ulama rasmi pemerintah akan menjadi musuh kepada kalian.

Setiap pemerintah berusaha membatasi amal kalian dan memasang halangan di jalan yang kalian tempuh.


Mereka akan meminta bantuan dari mereka-mereka yang berjiwa lemah dan berhati sakit, sebaliknya akan berlaku kasar kepada kalian.

Kerana itu kalian akan dipenjara, disiksa, diusir, rumah-rumah kalian digeledah, harta kalian dirampas, dan tuduhan keji dilontarkan pada kalian dengan harapan dapat mengurangkan wibawa kalian.

Kemungkinan ujian ini akan berlangsung dengan lama. Sedarilah, saat itu kalian baru mula menapakkan kaki dijalan yang telah ditempuh oleh para mujahid…”


Hari ini, 528 orang ahli Ikhwan Muslimin yang sebelum ditangkap dan dipenjarakan telah dijatuhkan hukuman mati oleh mahkamah, termasuk Mursyidul Amnys sekali, Dr. Muhammad Badie.

Semoga Allah SWT memberkati jihad mereka dengan syurga, dan moga Allah SWT meneguhkan kita dalam jihad kita di Malaysia.


6:39 pm (re-update pukul 11:00 pm)
24/3/2014
BaTar 4
Semoga tiupan itu bukan memadam, tapi akan memarakkan lagi cahayaNya.

Sunday, 23 March 2014

Lap habuk pada cermin.

Ibadah tak punya rasa tenang seperti dulu?
Bacaan Quran dan tadabbur sudah tak punya kesan?
Dakwah dan ukhuwah tak lagi terasa manis?
Nasihat tak lagi mampu memberi kesan pada hati?
Apa yang hilang ni sebenarnya?

Maaf, tapi pandanglah dirimu akh sebelum menyalahkan keadaan dan orang sekeliling.
Ikhlaskan hati kita akh, bukan sekadar paksakan diri dan telan semuanya.
Kalau tidak, kita akan merasa ayat Al-Quran itu memaksa, nasihat itu untuk menjatuhkan, ukhuwah tak lagi seronok, ikhwah tak lagi memahami, amal ibadah (baca:mutaba'ah) itu memberatkan, dakwah itu pengarahan, jauh sekali nak 'berkorban'.

Ingatlah semula waktu itu, waktu kita yang memerlukan Allah SWT.
Seperti awal zaman jahiliah kita dulu, waktu kita sangat jauh.

Barangkali kerana kita dah tak rasa kita memerlukan Allah SWT.
Sebab itu, semuanya tak lagi seperti dulu, seperti waktu hanya kita dengan Allah SWT sahaja.
Sebab itu kita 'lari', kerana kita dah tak rasa kita memerlukan Allah SWT.

Semuanya tinggal pilihan kita, buatlah pilihan yang tepat bukan sekadar baik, benar dan betul.


22/3/2014
10:25 am
BaTar 4
Bila keadaan memaksa, sukar untuk menyalahkan diri sendiri.
Jadi, yang lebih mudah itu adalah salahkan keadaan.

Friday, 21 March 2014

Resistance and pesistence.

Cuma yang pernah letih menahan panas akan faham nikmatnya makna 'menari' dalam hujan.

Perkataan 'ujian' antara yang paling biasa kita dengar sebagai pekerja (baca:jundi) di jalan dakwah. Satu kata yang cukup padat dengan pengorbanan, dugaan dan perjuangan melawan kecenderungan diri. Bila membaca sirah para sahabat Rasulullah SAW, kagum. Tahap pengorbanan legendary mereka sikit lagi nak mencapai tahap nirvana (sarcasm). Selama ini, mungkin kita pernah bertanya:

"Apa tindakan kita sekiranya perkara yang sama terjadi pada kita?"
 Kita biasa melihat, ada ikhwah wal akhwat yang menghadapai masalah. Masalah mereka, mereka dan Allah SWT lebih tahu bagaimana besar atau kecilnya masalah itu. Sembang kita kadang kala lebih lebat dari air hujan. Bila masalah itu datang sendiri ke depan batang hidung kita sendiri, macam mana? Aku dah pernah cuba untuk menjawab soalan ni dalam post sebelum ni: Jerit kuat-kuat di sini. 

"Dari sudut mana seseorang itu akan diuji?"

Setiap pada kita diuji dengan perkara yang kita sukai. Perkara yang kita sukai akan menjadi titik yang terlemah, disini Allah SWT akan menguji kita. Bolehkah kita mengorbankannya? Dakwah itu cinta, dan cinta akan menuntut segalanya darimu, segalanya. Sebelum ini kita boleh mengatakan "kita semua akan diuji", tapi apa kita akan sungkur bila tiba masanya diuji?

Mari syurgakan kata dengan bukti. Mari syurgakan ujian dengan amal, bahawa bila ujian itu datang kita siap untuk menerima, siap untuk memberikan cinta kita, demi Allah SWT. Kita mungkin merasa berat, ya memang benar beban yang kita bawa memang berat. Tak sanggup nak dilepaskan, mahupun diberi kepada orang lain. Tapi generasi sebelum kita, para sahabat Rasulullah SAW mencontohkan pada dengan amal yang paling baik. Mereka ini telah meletakkan Allah SWT, Rasulullah SAW dan jihad diatas yang lain. Diberikan semuanya, biarpun yang tinggal cuma segenggam kurma supaya mereka memperoleh keredhaan Allah SWT dan doa Rasul. Yang tak punya apa-apa pula menangis, sebab nak memberi tapi tak punya apa-apa pun!

Sekali lagi, dakwah itu cinta, dan cinta itu menuntut segalanya darimu, segalanya. Ini medan praktikal bagi kita pula. Kita punya masa, wang, perasaan, tenaga bahkan itu pun diminta oleh cinta. Pengarahan dakwah pula tiba dalam keadaan yang agak singkat dan seperti memaksa, kerana tak ada yang lain sudah boleh dipinta. Bila terpaksa untuk memilih antara dakwah dan keutamaan yang lain, anda sedang diuji. Sediakah untuk menerima? Sudahkah pertimbangan yang tepat dibuat? Adakah kita akan mengutamakan Allah SWT, Rasulullah SAW dan jihad dalam dakwah?

"Macam mana sekiranya ujian itu rasanya terlampau berat?"

Allah SWT ada menyampaikan pada kita, dalam Surah Al-Baqarah, ayat 286 (2:286). Nyata maksudnya, tapi perkataan yang berat. Masalah yang menghentam kehidupan kita, pasti cuma kita yang faham kesusahannya. Kalau diceritakan sekalipun, tak boleh nak expect mereka akan faham seperti yang kita rasa. Jadi Allah SWT tak faham kesusahan dan penderitaan pemikiran dan fizikal tu?

Maaf, tapi pada aku sangat kecewa dengan pemikiran sebegitu. Kerana dia yang merasa semuanya, jadi orang lain tak layak untuk mendengar, menasihati, memberi pendapat mahupun membantu. Sukar nak meneka internal change manusia.

Maaf sekali lagi, tapi macam mana kalau itu yang terbaik dari Allah SWT? Barangkali kita expect yang terbaik dari Allah SWT itu sesuatu yang menggembirakan, pasti membahagiakan dan menenangkan kita. Sukar untuk belajar dari kepahitan, tapi barangkali itu pelajaran yang terbaik. Bukan pukulan ke 100 yang menjatuhkan, tapi 99 pukulan yang sebelumnya. Sinonim untuk hal ini yang biasa digunakan adalah 'bersangka baik', 'positive thinking', 'energy' etc.

Expect the unexpected. Kecewa mungkin pasti berlaku, cuma jatuh ke lubang yang sama kali kedua? Mudah-mudahan Allah SWT akan terus mengukuhkan langkah, menetapkan hati, dan meluruskan niat di jalanNya.

Buatlah pilihan yang tepat, bukan sekadar baik, benar dan betul. Keutamaan kita ada, dan sudah Allah SWT jelaskan dalam Surah At Taubah, ayat 24 dan 41 (9:24, 9:41). Tak ada kerugian pada seorang da'ie kerana pekerjaan, perkataannya adalah yang terbaik (41:33). Kerugian yang nampak hanyalah kerana setan dan iblis yang menjadikannya sebegitu rupa buruk dan rugi, sedangkan Allah SWT menjanjikan pertolonganNya (47:7). 

Inilah jalan yang akan sentiasa menguji keyakinan dan kesabaran kita. Perniagaan yang mana kita perlu membayar dengan harga semasa untuk keuntungan masa depan, dunia dan akhirat. Andai saja kita sentiasa sabar dan yakin untuk melihat hasilnya. Kuatkan kesabaranmu akhi wal ukhti (3:200), tak ada yang sia-sia dalam usahamu (3:191), selepas setiap kesulitan akan ada kemudahan (94:4-5).

Jalan dakwah ini pula panjang, hujungnya tak nampak, akhirnya pula tak tahu bila. Dakwah banyak dan akan sentiasa mengajarkan kesabaran untuk kita. Berjuang sendirian terasa melelahkan, oleh itu jagalah ukhuwah dakwah kita. Supaya amanah dakwah lebih tenang dan nyaman, tuailah nikmat ukhuwah di dalamnya.

Mari kita maksimumkan usaha, perbaiki sendi keimanan dan dengannya kita akan menuai hasil dunia dan akhirat terutamanya, insya Allah!

21/3/2014
4:19 pm
BaTar 4
Cinta dan sabar adalah kata kerja, bukan retorik semata-mata.


Polis agama

Dakwah ini menakutkan?

Kebelakangan ini, aku ada melihat beberapa karenah dalam kalangan para da'ie ini yang menyebabkan aku rasa mahu sedikit mencoret idea. Bukan mahu mendedahkan keburukan para da'ie, apatah lagi menjauhkan mad'u dari dakwah kita, tapi mari bercermin dengan tindakan dari sebahagian kita supaya berlaku perbaikan:
  1. A (bukan nama sebenar, letaklah nama yang anda suka) menyebarkan khabar berita melalui laman sosial (FB, Twitter, sembang kencang etc) kepada semua supaya menjauhkan diri dan berhati-hati dengan B (juga bukan nama sebenar, dari jama'ah lain kot) kerana bimbang nanti terpedaya dengan ayat-ayat padu dan mantap B yang akan menyebabkan mad'u akan meninggalkan usrah/halaqoh/bulatan gembira A dan join usrah/halaqoh/bulatan gembira B. Fakta menarik lagi: A dan B tak pernah bertemu muka pun, bersembang pun tak pernah!
  2. Datang ke surau/kelas/taman (tempat berkumpul) dan menghalang usrah/halaqoh/bulatan gembira yang sedang berjalan dengan alasan berikut: kena ada kebenaran, tak rasmi, tak berdaftar (sama la tuh), mengganggu, "depa ini dari jama'ah ana" etc.
Perangai pelik budak-budak nih....

Pengajaran dari Surah Al Imran, ayat 110 (3:110)

Allah SWT mengajarkan kepada kita, bahawa umat terbaik itu umat yang bergerak, bukan duduk diam, memerhati dan membiarkan tindakan orang lain. Bergerak untuk mencegah kemungkaran dan mengajarkan kebaikan kepada semua. Cara untuk mengajak kepada kebaikan terpulang kepada masing-masing: nak buat usrah/halaqoh/bulatan gembira, nak buat jaulah/kembara/rombongan, nak iftar/dinner bersama-sama/makan luar/belanja makan, nak buat dauroh/program/seminar. Buatlah, sebanyak mungkin selagi mampu kerana umat terbaik akan sentiasa sibuk untuk berbuat, bukan sekadar sembang kencang, melangit tapi habuk pun tarak!

Contoh yang dikemukan diatas adalah amat pelik. Kita mengatakan kita adalah seorang da'ie, tapi kemudiannya kita menghalang orang lain untuk berbuat dan menyebarkan kebaikan. Usrah/halaqoh/bulatan gembira perkara mungkar, jadi perlu dihalang? Idea datang dari siapa kalau bukan setan dan iblis? Kalau dalam contoh 1, lebih dahsyat kerana semuanya dibuat atas dasar sangkaan semata-mata!

Patutlah mad'u lari bila diajak sama-sama, bahkan menjauh dari orang-orang yang mahu beragama dan mengambil jurusan agama. Bila hendak turut serta, difitnah, ditakut-takutkan dengan pelbagai tuduhan. Bahkan, yang menuduh adalah seorang da'ie (atau sekadar mengaku da'ie) juga!

Inikah kerja umat yang terbaik, menakut-nakutkan manusia dari kebaikan? Sedangkan kemungkaran bertebar ke pelosok masyarakat. Katanya da'ie ini adalah doktor, nak memberi ubat tapi sebenarnya meracun supaya masyarakat mati tak makan ubat doktor lain. Begini cara kita nak 'merawat' umat? Jika jawapannya adalah YA, maka patutlah masyarakat ini makin hancur.

Patutlah dakwah ini menakutkan, kerana sekarang kita menjadi polis agama. Betul dan salah, semua atas kata dan sangkaan semata-mata.

Pendangan baru untuk sebuah cerita lama.
Setakat pengalaman aku, tak pernah lagi aku mendengar mana-mana jama'ah/pergerakan berdakwah bukan kerana Allah SWT. Semuanya sepakat mengatakan bahawa dakwah adalah untuk Allah SWT, mengajak manusia kepada Allah SWT, sebagai jalan untuk mendapat keredhaan Allah SWT. Ruh dakwah kita adalah sama!

Ada perbezaan yang kita boleh toleransi dan ada perbezaan yang kita langsung takkan toleransi.

Contoh untuk yang kita boleh toleransi, cara berdakwah kita. Lagi banyak cara, lagi ramai kelompok manusia yang kita boleh sentuh. Manusia berbeza-beza kecenderungannya. Kenapa ada yang boleh terima Mat Luthfi menyampaikan mesej melalui video, tapi tak boleh terima kalau Ustaz yang sampaikan? Untuk difikirkan. Contoh untuk yang kita takkan toleransi, mengajak manusia tapi dengan tujuan selain Allah SWT (akidah lain, untuk meramaikan ahli jama'ah/pergerakan, pangkat, harta etc). Dalam hal ini, insya Allah kita akan sepakat untuk tolak, kerana memang kita akan mencegah yang mungkar.

Dengan cara yang berbeza-beza kita gunakan, cukuplah dengan Allah SWT tujuan kita. Tak malukah kita pada Allah SWT yang menjadikan perbezaan sebagai suatu rahmat dariNya? Sedang kita pula, kerana perbezaan yang kita boleh toleransi, kita merosakkan amal-amal kita dengan bergaduh sampai mengkafir orang lain! Akhirnya musuh-musuh kepada Islam yang gelak besar melihat para da'ienya bergaduh!

Allah SWT yang lebih tahu antara kita semua siapa yang lebih benar (13:71). Jadi kerja kita sekarang bukan saling menjatuhkan. Kita kena berusaha, sedang kita masih berada dalam jalan kebenaran kita bekerja supaya kita akan menjadi yang paling atas. Kita berlumba supaya menjadi yang terbaik dalam yang kalangan yang baik (3:138). Kita yang memerlukan Allah SWT, jadi jangan dirosakkan lagi amal-amal kita....

Maaf andai tulisan ini punya kesalahan. Aku cuma ingin sampaikan secara terbuka, moga kita boleh saling memperbaiki dan membangun bangunan dakwah yang kukuh. Aku rindu pada da'ie yang sentiasa berbuat yang terbaik untuk dakwah. Aku bukan mahu menyatakan aku paling benar, cuma aku mahu kebenaran dan dakwah itu kukuh, bukan rapuh dengan kerja dakwah macai sebegini!

Semoga bermanfaat untuk dakwah kita. Untuk Allah SWT, supaya Allah SWT redha dengan kehidupan kita.

21/3/2014
1242 am
BaTar 4
Ruh kita sama, mari bekerja!

Friday, 14 March 2014

May the lesson be yours. Truly yours.

Pelajaran dari satu ayat: Surah Yusuf, ayat 108. [12:108]

1. Dengan menyebut, itulah asas kepada dakwah. 

Perkataan yang kita cuba sampaikan bukan dengan bicara semata-mata, tetapi bahkan lebih jelas disampaikan dengan amal.

"Action speaks louder than words."
Dalam menyampaikan, kita pasti mahu berikan yang terbaik. Jadi, dalam menghasilkan buah yang terbaik, perlu ada persiapan supaya apa-apa pun yang kita usahakan tidak akan menjadi suatu usaha yang tidak memberi impak pada target dakwah. On the highest list of priorities, jagalah keikhlasan kita dalam menyampaikan perkataan yang terbaik, supaya Allah SWT akan menerima amal-amal kita sebagai amal yang diredhaiNya, amal seorang hamba yang berbuat supaya TuhanNya redha kepadanya.

Hasan al Banna pernah berkata : “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah hendaknya seorang akh dengan ucapan, perbuatan dan jihadnya, semua hanya mengharap ridha Allah, tanpa melihat dan mengharap imbalan, pangkat, kedudukan, popularitas.”

Perkataan yang berat menuntut tindakan yang kuat untuk memikul beban perkataan itu. Ikhlaskan saja, bukan tunggu ikhlasmu!

2. Nyatakan pendirian dengan penuh keyakinan.

Bahawa:

"Inilah jalanku!"
"Ini adalah perkara yang aku telah pilih!"
"Insya Allah, aku akan tetap disini, kerana ini yang aku yakin!"

Terus untuk tetap tsabat dan tetap pada jalan dakwah ini.

Pernyataan yang perlu disemat dalam hati dan dilafazkan dengan amal supaya ia akan menjadi sekukuh gunung. Ini bukan sekadar retorik untuk menakutkan musuh, semangat sahaja tidak akan cukup untuk sentiasa memotivasi perjalanan ke hadapan kerana jalan dakwah kita masih panjang. Jauh lagi akh, kesabaran kita sentiasa perlu diperkuatkan dan semangat kita sentiasa perlu diperbaharui dengan sumber tenaga yang tak kehabisan.

Oleh sebab itu, nyatakan pendirian kita pada jalan dakwah ini dengan kefahaman, bahawa ada target yang mahu dicapai dan sedar akan tindakan yang perlu dilakukan. Allah SWT tujuan kita, Rasulullah SAW teladan kita.

3. Sentiasa mengajak manusia kepada Allah SWT, supaya mereka kembali ingat kepada Allah SWT. 

Persatuan yang dibentuk atas dasar untuk taat kepada Allah SWT semata-mata.

Bangsa, ideologi, jamaah mahupun kepentingan tertentu (harta, jawatan etc.) telah dijadikan sebagai sebagai kuda tunggangan dalam mengumpulkan sokongan dan mempersatukan manusia. Bahkan, Allah SWT juga diperalatkan atas dasar untuk mencapai tujuan-tujuan peribadi diatas. Lalu, berkumpullah satu kumpulan yang mengatakan diri mereka mengajak manusia kepada Allah SWT, sedangkan mereka cuma mahu mencapai tujuan lain (seperti contoh diatas) sebagai priority dan Islam, dakwah sebagai secondary. Ini dakwah yang yang kita mahu bawa, dengan meletakkan Allah SWT sebagai seconday, attachment?

Mungkin saya cetek pemikiran, tak mengenal dunia mahupun terjun langsung ke 'medan dakwah sebenar' barangkali, tapi ada saja mereka yang 'dakwah' mengajak kepada jamaah, sekadar mahu meramaikan pengikut supaya boleh berbangga dengan bilangan (supaya ada suara majoriti, katanya) tanpa melihat kualiti penggeraknya. Khuatir, bila para penggerak dakwah ini tidak diperhatikan dengan baik kualitinya akan merosakkan jamaah, dakwah yang dibawa, bahkan sampai membenarkan kemaksiatan dan kekufuran pada Allah SWT. Boleh terjadi, kerana mereka tak ada kefahaman terhadap tujuan asal dakwah.     

4. Membawa dakwah dengan penuh keyakinan, kerana yakin bahawa kita menyampaikan ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW.

Perkataan mana yang lebih baik dari Al-Quran? Peribadi siapa yang lebih baik dari Rasulullah SAW?

Bila mana kita membawa yang terbaik, ada winning factor dalam tangan kita. Bahawa kita pasti tidak akan kalah, bahkan insya Allah bantuan Allah SWT pasti ada [47:7].

Wajib untuk kita untuk mempunyai ilmu yang melebihi tsaqofah umum semata-mata, kerana itu akan menguatkan hujah dan menghilangkan keraguan pada hati.

5. Dakwah ini tidak mungkin akan dibawa oleh orang-orang yang tidak menyertakan dirinya kepada Allah SWT.

Perlu untuk kita perhatikan sentiasa sifat-sifat buruk yang masih melekat dalam diri supaya tidak ada yang akan menyebabkan fitnah kepada diri bahkan dakwah terutamanya.

Orang yang menjadi hawa nafsu sebagai tuan kepada dirinya tidak mungkin mampu untuk bertahan lama, kerana dakwah akan menuntut segala-galanya. Masa, tenaga, idea, cinta bahkan sampai harta dan keluarga perlu dikorbankan. Jadi, bagi yang masih ada perkara yang segan, bahkan berat untuk dikeluarkan sedangkan dakwah menuntutnya maka mereka takkan mampu bertahan kerana masih ada yang ia cintai selain Allah SWT, Rasulullah SAW dan jihad.

Setiap pada kita akan diuji pada titik terlemahnya, oleh itu amat diperlukan kesabaran dalam pengorbanan. Sentiasa perhatikan keikhlasan dan sentiasa peringatkan diri untuk ikhlas, positif dengan kemampuan diri sendiri. Lihatlah dengan kaca mata perbaikan: apa lagi kekurangan yang harus diperbaiki?

Dan yang pasti, orang-orang yang sabar itu akan menang.

6. Dakwah ini tidak akan mampu oleh seorang. 

Bermula dengan seorang boleh, tapi digerakkan oleh seorang sahaja: terbatas kemampuannya. Seorang diri, dia akan lemah, kerana dia boleh diserang dari pelbagai sisi.

Oleh itu, perlunya ada satu jamaah. Kita menggabungkan semua kepakaran, kebolehan, kelebihan, kemampuan kita menjadi satu unit yang bersinergi untuk menggerakkan dan menyebarkan kebaikan kepada seluruh manusia. Saling mempertahankan bila diserang, bahkan on the offensive bila musuh menunjukkan kelemahan.

Da'ie itu beruntung, kemana sahaja dia akan pergi dia akan menebarkan kebaikan.

*******
14/03/2014
BaTar 4
11:56 am.
Idea ketika di rumah, di catat. Catatan lama yang direalisi akhirnya.





Wednesday, 26 February 2014

Anoynamous

Sekadar copy paste. Aku tersentuh dengan penulisan dibawah. Nama penulis tak disertakan, tajuk pun tak ada. Tapi, yang nyata dalam penulisan ini adalah sudut pandangnya yang benar-benar mencerminkan sebuah kata kerja bagi dakwah: membina.

*******
Mengendalikan sebuah usrah, adalah seperti mentadbir sebuah dunia dalam kesenyapan.

Tidak seperti dakwah umum;
Membawa usrah tiada publisiti, tiada liputan, tiada ganjaran.

Juga,

Menjadi seorang murabbi, tidaklah sama seperti personaliti dakwah.

Kita tidak akan punya page Facebook sendiri, status tidak akan menerima jutaan like dan share, blog tidak akan mendapat ribuan views.

Tapi sebenarnya,
Murabbi adalah kunci kepada perubahan dunia.

Carilah satu kaedah yang mampu mengislahkan manusia dengan sudut sekomprehensif usrah, mampukah?

Kamu tahu,
Manusia ini cenderung untuk melakukan apa yang dia paling mahir.

Mereka yang selalu melaungkan amal, mencanangkan kerja mereka, sebenarnya hanya mampu setakat itu.

Tapi mereka yang fasih berkerja, mentarbiah seorang demi seorang, menyentuh hati demi hati,
tidak akan banyak bersuara.

Malah mereka akan terus bekerja, kerana itu yang memaknakan mereka.

Itu adalah kepakaran mereka.

Ah, dakwah sudah mudah.

Ramai sudah yang mampu menulis kata kata enak, video video menarik, seminar dan dialog ilmiah. Ramai.

Namun masih ramaikah yang mampu bekerja tanpa dikenali, membina manusia demi manusia, mengubah no body menjadi somebody?

Menjadi seorang murabbi.

Semua akh biasa berdakwah, menyebar islam dengan cara sendiri.

Tapi hanya akh yang benar, mampu menjadi seorang murabbi.

Kita naik, dengan mengangkat insan insan lain.

*******
9:38pm
26/02/2014
BaTar 4
Masa telah berubah, cara masing-masing, kita berlumba menuju syurga.

Tuesday, 18 February 2014

Rest in peace bro?

Beginilah jalan yang sama-sama telah kita pilih untuk kita tempuhi.
Kita telah memilih untuk muncul dari gelap menuju gemerlapan.
Kemudian, mencuba untuk naik lebih tinggi, dari cahaya menuju atas cahaya.
Menjadi pengembala di tempat persinggahan, untuk sekadar mencedok rasanya.
Mengantarkan manusia menuju menuju jalan penuh cahaya, berkah dan hidayahNya.
Berpeluh keringat untuk menyalakan bara-bara api yang hampir padam.
Berlelah-lelah mengorbankan tenaga, buah fikiran, harta untuk mempersiapkan yang terbaik, hanya untuk redhaNya.

Bismillah,
Pada waktu ini, aku ingin menikmati jawapan dari Tuhanku.
Untuk memantapkan keyakinan, memberi jawapan, menghapus keraguan, menghilangkan khawatir, merasai kenikmatan.

Adakah aku berharap padaNya?
Adakah aku tak ingin mendapatkan nikmat saat Allah SWT menjawab semua doaku?

Untuk itu, sampai saat itu tiba,
Teruslah bergerak, teruslah bekerja mengharap redhaNya,
Teruslah berdakwah!
Biar amal-amal ini jadi bukti, bahwa kita hamba yang bersyukur.
Saat Allah SWT perlahan-lahan menjawab doa hambaNya,
Biar kita menikmatinya dengan cara ini.

Semoga tiap kelemahan diperbaiki dengan amal-amal.
Semoga setiap amal akan memberi pelajaran yang membekas.
Semoga tiap pelajaran menjadi pengukuhan hati.
Semoga keteguhan hati ini terus membawa kepada redhaNya.


8:33 pm
18/02/2014
BaTar 4
Do your best, let Allah do the rest.
Aku tak bersedih andai kehilanganmu. Moga Allah SWT memberi pengganti yang lebih baik.
RIP.

Thursday, 13 February 2014

Mengapa halaqoh ini seperti di sorga?

"Mengapa halaqoh, tarbiyah, dakwah kita ini sangat indah ya akh?"

Hidayah Allah SWT amat luas. Boleh datang dalam pelbagai perkara. Aku pernah mendengar ada orang masuk Islam, bermulanya kerana dia tersadung batu dan secara tak sengaja menyebut "Allahuakbar!". Pelik, dalam keadaan hambaNya tak sengaja sekalipun, Allah SWT mampu memberikan yang terbaik kepada hambaNya. 

Perasaan yang datang dari mana?
Entah, aku tak punya jawapan yang tepat untuk soalan itu.

Boleh jadi, ia indah kerana banyak berjumpa dengan orang yang Qana’ah yang tak tinggi hati karena kedudukan dan pemahamannya.

Mungkin, kerana tersentuh melihat orang yang berkain putih tak segan memeluk temannya yang berlumpur.

Barangkali, kerana berjumpa dengan saudara yang begitu sabar mencabut duri-duri tajam di hati saudaranya tanpa saudaranya itu merasa tersakiti. Subhanallah.

Atau, sebab ada juga saudara yang satu bersusah susah mendukung saudara yang lain, tanpa meminta supaya dibalas kebaikannya.


Cuma, kebahagiaan kita ini yang aku faham bukanlah suatu kebahagiaan yang bersifat dan bergantung pada kewujudan material, tapi lebih kepada suatu perasaan yang tenang dan bahagia yang lahir kerana amalan. Kita bahagia dan merasakan halaqoh ini indah kerana kita merasa bahagia meyakini, memahami dan mengamalkan agama Islam ini. Halaqoh ini cuma satu medium, dan aku harap kita tak terkeliru kerana kekaguman kita dengan murobbi, kerana dahsyat dan hebatnya ikhwah-akhwat mahupun kerana program yang kita sertai. Itu semua biasa, kita melihat perkara yang kita rasa terbaik dan kita mahu mencontohi mereka. Kebahagiaan dan indahnya halaqoh, itu dari internal kita. 

Makna pada sebuah kata "Islam itu Indah".
Aku tak bolah bayangkan andai aku akan sekali lagi berada di tempat lain dengan lingkungan yang tak seperti ini dan jauh dari tarbiyah dan dakwah ini. Ya, aku pernah merasakannya pada 2012 lalu. 

FLASHBACK: Bila halaqoh bukan suatu kewajiban mingguan, bila hadir program bukan satu aktiviti rutin bulanan, bila syuro dan liqo' tiada dalam celah-celah akvititi harian, bila SMS tazkirah ikhwah dan Jarkom memecah kesunyian handphone, bila pengisian murobbi bukan menjadi penguat dan pengukuh ketaatan pada Allah SWT, bila ikhwah bukan teman rapat yang sentiasa mengingatkan. Pada tahun itu, aku merasakan hidup aku penuh dengan kekosongan. Walaupun aku cuba memenuhkannya dengan pelbagai aktiviti lain seperti games, tengok wayang, berjalan-jalan ke pelbagai tempat, panjat bukit, masuk marathon (dan banyak lagi), tapi aku tak dapat mencipta kembali perasaan yang sama, bahagia dan tenang yang pernah aku rasakan sebelumnya (pengecualian untuk membaca buku-buku yang thought provoking. Serius best!). Berbeza pula bila Ramadhan tiba aku mula solat tarawikh, hadir ke kuliah dhuha, kuliah perdana, tilawah Al Quran. Aku sungguh amat tenang dan amat bahagia ketika itu. Ramadhan berlalu, perasaan itu pun berlalu bersama-samanya.

Tapi Allah masih sayang pada aku. Yang aku pelajari, ternyata bahagia dan tenang itu bukan datang dari siapa yang terlibat dan apa aktiviti yang diperbuat. Puncanya adalah pada untuk siapa kita berbuat. Allah SWT mengajarkan pada kita dalam Surah Ar Ra'd (13), ayat 28:
Surah Ar Ra'd, ayat 28.
Mana mungkin orang boleh mengatakan "Islam itu indah", sedangkan dia jarang sekali beramal. Amalan adalah sebuah medan aplikasi kepada teori kita, halaqoh adalah medan komitmen kita, gerak kerja adalah sebuah pembuktian kepada komitmen kita dan hasil adalah pembuktian kepada amal-amal kita. Indah, bila Allah SWT sentiasa bersama-sama dengan kita, meredhai setiap langkah dan perbuatan. From there, the meaning will sink deep: that our religion is beautiful. Indah bukan sekadar kerana penganutnya, malah kerana tenang dan bahagianya perasaan mereka bila Allah SWT ada bersama-sama dan mereka merasakannya, bukan lagi sekadar slogan dan kata.
  
Sungguh keberadaan kita di sini dalam halaqoh dan tarbiyah bukan karena ingin dipandang hebat tapi kerana ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan semoga hakikat dakwah akan tetap murni di tangan para jiwa yang bermujahadah. 

4.49 pm
13/2/2014
BaTar
Akhir kepada sebuah angan adalah satu cita-cita.
Akhir kepada sebuah cita-cita adalah sebuah kenyataan.
Redha Allah SWT akan jadi kenyataan.
Bila tersemat sebagai sebuah cita-cita. 

Wednesday, 12 February 2014

Sekarang, jerit kuat-kuat

Suatu ketika, kita akan diberi masalah.

“Hok aloh, macam mana nok dibuat nih?”

Itulah kebiasaan kepada mana-mana masalah. Ia akan hadir secara tiba-tiba dan tak memberi sebarang solusi. 

Simptom yang biasa dihadapi mangsa     : Blank, senyap tiba-tiba, tak angkat call, tak reply mesej, suka menyendiri (untuk lelaki sahaja kot).

Kesan yang biasa terjadi pada mangsa    : Hilang arah dan tujuan.

Dalam menyikapi masalah
Allah SWT ada menyebut dalam Al-Quran tentang ujian. Paling senang adalah dalam Surah yang amat sukai oleh Spiderman (mungkin, jika dia beriman siapa tahu :)), Surah Al Ankabut, ayat ke 2 dan 3:

Surah Al 'Ankabuut, ayat 2.
Surah Al 'Ankabuut, ayat 3.
Ujian itu adalah suatu penanda aras untuk melihat kepada tahap keimanan manusia. Ujian/peperiksaaan dibuat untuk menganalisa tahap kefahaman seseorang dalam satu subjek. Sekarang, kita ubah sikit. Pemeriksa ujian kali ini adalah Allah SWT. Sedang diuji, tahapan keimanan akan dianalisa; sejauh dan sampai mana dalam diuji oleh Allah SWT kita akan tetap menjadi seorang yang beriman kepadaNya. 

Semua orang akan diuji oleh Allah SWT, sesuai dengan tahapan keimanannya, dan ini disebut dalam satu hadis Rasulullah SAW:

Orang yang paling berat cubaannya adalah para Nabi, kemudian semisal dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila ia kuat memegang agamanya, maka akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Cubaan akan selalu datang kepada hamba hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi dengan tidak membawa dosa. (Hadis riwayat Bukhari, Ahmad dan At-Tirmidzi) 

K.H Rahmat Abdullah juga ada menyampaikan satu mutiara kata yang penuh hikmah, berkaitan dengan ujian:

“Manusia itu akan diuji pada titik yang terlemah.”
"Setiap kita senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita. Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan. Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah. Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara mertua datang, tamu silih berganti di saat ia akan berangkat..

Terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain."


Ujian tak hadir dalam keadaan paling best, paling gembira dan mudah. Ujian akan hadir pada titik yang terlemah, sesuai dengan namanya: ujian. Dalam keadaan yang paling tak selesa, paling tak best, inilah medan praktikal bagi kita. Sebelum ini, kita mungkin biasa mendengar dalam ceramah/kuliah, TV, radio etc. dengan teori tentang bagaimana nak menghadapi ujian:

                “Katakan pada masalah, kita punya Allah Maha Besar!”

Nah, bila ditimpa masalah, kesibukan etc, cuba ingat sahaja bagaimana kita praktikalkan cara itu menghadapi masalah itu. Adakah kita merealisasikan slogan yang kita canangkan diatas tadi? Mari kita menjawab dengan bercermin pada diri sendiri, ukurlah baju di badan sendiri, tepuk dada masing-masing (jangan jadi Tarzan pulak) tanyalah pada iman anda sendiri. Tak perlu kita refer kepada case study luar.

Dalam menyikapi masalah, mari kita ubah cara pandang kita dahulu kepada cara pandang orang yang bertuhan. Kenapa Allah SWT memberi masalah untuk kita selesaikan? Kenapa masalah ini hadir pada waktu sekarang, bukan selepas ini? Kenapa cuma kita yang menerima masalah ini, bukan orang lain? Soalan-soalan yang cukup subjektif, tak pernah ada dalam skema jawapan kita! Ternyata, kita tak punya jawapan yang tepat untuk semua soalan itu. 

Tak usah difikirkan sangat, mari kita bersangka baik dengan Allah SWT. Hadapilah sebagai orang yang punya keyakinan pada Allah SWT. Bunyinya macam tak kena, tapi tahniah sekiranya anda berdepan dengan masalah! Inilah peluang untuk memperbaiki diri sendiri, menjadi lebih kreatif, menutup ruang kelemahan yang terlihat dek manusia. Terima ia sebagai peluang untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Jadikan peluang ini untuk dirimu menjadi orang yang penuh dengan kebaikan, supaya ramai yang boleh mengambil manfaat darimu. Cuma setelah merasai gelap baru kita akan faham pentingnya cahaya. Berubah dari gelap menuju gemerlapan, dari cahaya menjadi cahaya diatas cahaya. 

That's why they say: There is light at the end of the tunnel.

Cuma orang yang berjaya mengharungi ujian akan muncul sebagai seorang pemenang, dan yang terbaik dalam kalangan pemenang adalah mereka yang berprestasi dalam keterbatasan. Teruskan tsabat di jalanmu akhi wal ukhti. Mari jadi pemenang!!!

Bukan cara hidup seorang pengalah.
"Nak wat camne lagi, benda dah jadi....."
"Takpe, tenang je dulu. Ko tunggu je, nanti ada la tu bantuan Allah SWT datang...."

Sikap putus asa, menunggu keajaiban turun dari langit ini adalah bukan perkara yang diajarkan oleh Allah SWT. Allah SWT mengajarkan kita supaya berusaha, bangun, bergerak dan sekali-kali, jangan berhenti berharap pada Allah SWT. Bangun, gerakkan tulangmu untuk berusaha memperbaiki keadaan, insya Allah bantuan itu akan ada bersama-sama orang yang berusaha. 

Allah SWT memberikan bantuan bala tentera malaikat dalam Peperangan Badar bukan sebelum perang bermula, tapi setelah perang berlangsung. Allah SWT memberikan bantuan kepada Nabi Ibrahim bukan sebelum dicampak ke dalam api, tapi setelah dicampak ke dalam api. Allah SWT memberi bantuan kepada Nabi Musa bukan sebelum dikejar oleh Firaun dan bala tenteranya, melainkan pada saat-saat akhir, ketika mereka hampir berputus harap, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa supaya memukul tongkatnya ke laut; lalu dibukakan jalan keselamatan untuk mereka. 

Allah SWT membantu mereka (para Nabi dan Rasul) dalam mereka berusaha berbuat untukNya dan mereka juga tak berputus asa pada Allah SWT, walaupun dihadapkan dengan ujian yang amat dahsyat, dengan risiko yang paling tinggi. Winning mentality mereka menjadikan ujian dan masalah yang datang kepada para Nabi dan Rasul, membuatkan mereka menjadi semakin yakin kepada Allah SWT. 

Untuk menang, keyakinan pada Allah SWT yang tinggi dan tidak putus asa untuk terus bergerak akan memberikan buah yang terbaik. Mereka telah menang, dan kita tak ingin menjadi seorang pengalah!

SMS akhir buat yang masih merasa hebat gaban.
Kepada yang nak bergantung kepada selain dari Allah SWT, saya harap anda berubah fikiran. Itu adalah sama seperti berumah di sarang labah-labah. Tak tahan dek angin, nampak berkeupayaan tapi sebenarnya mudah dihancurkan dan tak menenangkan jiwa. Mari kita ambil pelajaran dari Surah Al-Ankabut, ayat 41:

Surah Al 'Ankabuut, ayat 41.
12/2/2014
6:59 pm
BaTar 4.
Today is a gift, that's why they call it the present.
Survivor untuk menuju akhirat, moga kita mendapat redha Allah SWT.

Saturday, 4 January 2014

Tolak 10 poin, tapi dapat 40 poin!


Tak menyesal ke tak pergi ke luar negara waktu dulu?

FLASHBACK: Dengan keputusan SPM 2007, macam-macam permohonan dibuat. UPU, Matrikulasi, UTP, MARA, JPA. Akhirnya, dapat tawaran dari MARA. Peluang untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang Kejuruteraan Kimia di Australia (2 tahun persediaan di Malaysia, 3 tahun seterusnya di Australia). Waktu tu, macam terkejut juga anak kampong dari ceruk daerah Bera boleh dapat tawaran sebegitu! Dah terbayang macam-macam benda baru boleh jumpa di Australia (naik semangat!). Jadi, bila bincang dengan keluarga nak pergi Australia, mak waktu tu nampak keberatan nak bagi. Ingat lagi, waktu tu sebab utama dia tak beri pergi adalah di luar negara tak selamat. Gempa bumi, kemarau, banjir, ribut taufan etc (semua ni memang ada berlaku waktu tahun 2008, tapi bukan semuanya di Australia pun). Buat counter proposal, cerita macam-macam pada mak pros dan cons untuk ke luar negara. Akhirnya dia beri, tapi dalam keadaan dia masih tak setuju (rasanya). Tak sedap hati juga nak pergi, aku kuatkan semangat untuk tolak tawaran.

“Kalau belajar jauh-jauh, tapi mak tak redha, buat apa? Tak payahlah….”

Itulah ayat yang aku selalu guna, nak sedapkan hati. Kecewa memang ada, tapi tak lama. Terubat juga, dapat tawaran masuk ke UTP siap dengan sponsorship penuh PETRONAS. Terus terima!

Menyesal dengan keputusan itu? Alhamdulillah, tak sedikit pun. Bahkan, boleh dikatakan antara keputusan paling tepat pernah aku buat. Kalau aku tak ke UTP, tak mungkin aku menjadi sepertimana sekarang. Dapat berjumpa dengan coursemate Petroleum Geoscience yang oshem, dapat belajar Petroleum Geoscience bahkan dapat peluang untuk mengenal lecturer-lecturer Geoscience Department UTP yang oshem. Kenangan-kenangan sewaktu fieldtrip, masuk hutan Gerik buat river traversing (paling imba!). 

Tapi sebab kenapa ini keputusan yang tepat adalah kerana bila aku masuk ke UTPlah aku mengenal malah serius dan konsisten dengan Al Quran. Dapat berjumpa dengan ikhwah-ikhwah di UTP yang tsabat dan oshem di jalan dakwah. Seronok berjaulah bersama-sama, lelah panjat bukit (2011) dan gunung (2013) bersama-sama. Dapat jumpa ikhwah-ikhwah sekolah (terutamanya di MRSM PDRM). Kalau halaqoh, lagilah macam-macam kenangannya. Tertidur, lambat datang, buku hilang, kena tegur sampai menusuk ke hati (heh :)) etc. Waktu itu, memang ada masa juga masa naik dan turunnya (teringat pulak tahun 2012) tapi kalau semuanya dipendekkan, semuanya oshem. Baru kelihatan hikmahnya sekarang, aku yang di Malaysia ini dapat berada dalam lingkungan yang baik. Sedangkan kalau aku ke luar negara, pasti keseorangan. Kiranya itu terjadi, aku tak mampu untuk kuat seorang diri menjaga keimanan.

Yang pentingnya dalam membuat keputusan bukan sekadar memilih yang paling betul dan terbaik dari yang ada, tapi juga yang tak kurang pentingnya adalah memilih yang tepat. Berapa ramai yang rasa main game, bercouple itu adalah keputusan yang  betul dan terbaik (peer pressure agaknya). Tapi akhirnya menyesal bila tengok-tengok keluar result exam, jatuh?. Barangkali, keputusannya tak berapa sesuai, tak berapa kena dengan cita-cita dan rasa hati. Tapi, jika itu keputusan yang tepat, insya Allah itulah yang betul dan terbaik. Mari muhasabah dengan ayat 216 dalam Surah Al Baqarah (2:216). 


Q.S Al Baqarah, ayat 216.

Tak salah kiranya turunkan 10 poin untuk cita-cita tapi mendapat 40 poin kerana mengambil jalan yang menguntungkan dunia dan akhirat (mungkin lebih poinnya!)

Wallahu ya’lamu, jangan bimbang! 
Waantum lata’lamun, yakin pada Allah SWT dengan keyakinan yang baik!

Untuk yang pernah buat kesilapan dulu, jangan jatuh kali kedua!

1/1/2014
10:45 pm
Di rumah kampong.
Dapat idea untuk menulis semasa dalam perjalanan.